
Kehidupan dan Perjalanan Karier Andri Lesmono
Andri Lesmono adalah sosok yang memimpin dengan pendekatan manusiawi di tengah tekanan dunia pemasyarakatan. Ia kini menjabat sebagai Kepala Lapas Balikpapan, sebuah posisi yang ia tempati setelah sebelumnya menghabiskan hampir dua dekade dalam bidang pengamanan warga binaan sejak 2006.
Lahir di Surabaya pada 21 Oktober 1981, Andri memiliki latar belakang keluarga yang terlibat dalam dunia pemasyarakatan. Ayah dan kakeknya juga bekerja sebagai sipir, sehingga ia menjadi generasi ketiga dalam keluarga tersebut. Pendidikan akademisnya dimulai dari Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP), yang kini telah berubah menjadi Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip).
Karirnya dimulai di Rutan Balikpapan sebelum kemudian ia dipindahkan ke berbagai daerah seperti Abepura, Papua, serta menjadi Kepala Keamanan di Lapas Narkotika Samarinda, Lapas Tenggarong, dan Gorontalo. Meski lahir di Surabaya, ia merasa hidupnya lebih terbentuk di Kalimantan Timur. Bahkan, ia menemukan pasangan hidupnya di tanah Mahakam.
Pengalaman Mencekam di Papua
Salah satu pengalaman paling membekas dalam karier Andri adalah masa tugasnya di Papua. Saat ditempatkan di Abepura pada 2010, ia menghadapi warga binaan yang sebagian besar berasal dari kelompok separatis bersenjata. Situasi sangat mencekam, dengan seringnya terjadi pemberontakan dan ancaman serangan dari luar lapas.
Pada masa itu, jumlah personel penjagaan hanya enam orang. Setiap hari tingkat kewaspadaan sangat tinggi, dan mereka harus cepat berkoordinasi dengan Brimob untuk mengamankan situasi. Selama enam bulan bertugas di Papua, istrinya sedang hamil anak pertama. Karena tuntutan pekerjaan, Andri harus berjauhan dan tidak bisa mendampingi proses kelahiran buah hatinya.
Namun, ia memilih menyimpan cerita-cerita berbahaya yang ia alami, tak ingin mengganggu psikologis istri. Saat ini, ia telah memiliki tiga anak dan bercanda bahwa generasi ketiga keluarga sipir cukup berhenti sampai dirinya.
Pendekatan Persuasif dan Pembinaan Kemandirian
Di tengah tantangan dunia pemasyarakatan, Andri Lesmono memilih pendekatan persuasif kepada warga binaan. Baginya, penghuni lapas tetap manusia yang harus dihargai. Setiap malam, ia rutin melakukan kontrol sekaligus menyapa warga binaan secara langsung.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini berasal dari kata "wong" dalam bahasa Jawa, yang artinya manusia. Dengan demikian, warga binaan dianggap sebagai manusia yang perlu diperlakukan dengan baik.
Lapas Balikpapan saat ini dihuni sekitar 1.286 warga binaan, jauh di atas kapasitas ideal sebanyak 707 orang. Mayoritas penghuni merupakan kasus narkotika. Meski over kapasitas, Andri Lesmono memastikan kondusivitas tetap terjaga melalui razia rutin maupun insidentil bekerja sama dengan TNI dan Polri.
Selain pengamanan, Lapas Balikpapan juga mengembangkan program pembinaan kemandirian. Mulai dari pembuatan roti, batako, pertanian, peternakan hingga perikanan. Produk roti dari lapas bahkan sudah cukup dikenal masyarakat Balikpapan.
Mengajak Keluarga Petugas
Pendekatan Andri Lesmono tidak hanya dilakukan kepada warga binaan, tetapi juga kepada para pegawai dan keluarganya. Ia rutin memberi pengarahan kepada istri-istri petugas melalui kegiatan Dharma Wanita. Tujuannya agar keluarga ikut menjadi pengingat bagi petugas untuk tetap bekerja sesuai aturan.
Ia juga mengingatkan pentingnya hidup sederhana dan bijak bermedia sosial. Menurutnya, tekanan gaya hidup kadang bisa menjadi pintu masuk terjadinya pelanggaran di lingkungan pemasyarakatan.
Hobi dan Gaya Hidup
Di tengah kesibukannya memimpin lapas, Andri Lesmono sebenarnya punya hobi bersepeda dan bermain tenis. Namun kini waktu olahraganya jauh berkurang karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya selalu siaga. Untuk urusan hiburan, ia mengaku menyukai lagu-lagu lawas era 1990 hingga 2000-an.
Di balik ketegasan seorang kepala lapas, Andri Lesmono tampak percaya bahwa pendekatan manusiawi tetap menjadi kunci menjaga keamanan dan pembinaan. Sebab bagi dia, tembok penjara bukan berarti mematikan sisi kemanusiaan seseorang.